Menyelam Lebih Dalam: Do’a Sapu Jagad
Siapa yang tidak tahu Do’a Sapu Jagad? Do’a sapu jagad merupakan salah satu doa paling populer dalam Islam. Kita sering mendengarnya dalam berbagai kesempatan ibadah, mulai dari setelah shalat hingga berbagai majelis. Doa ini berasal dari ayat Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 201:
وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ ٢٠١
“Di antara mereka ada juga yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka.”
Bahkan, Imam Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan, “Tidaklah seorang nabi maupun orang saleh berdoa melainkan mereka menggunakan doa ini.” (Fathul-Bari, 2:322).
Sekarang mari kita telusuri lebih dalam makna doa tersebut. Kita mulai dari teladan dari Kanjeng Nabi yang paling sering membaca doa ini.
Kanjeng Nabi Muhammad dan Do’a Sapu Jagad
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, disebutkan bahwa Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ paling sering berdoa dengan doa ini.
عن أنس قال كان أكثر دعاء النبي صلى الله عليه وسلم اللهم ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
Artinya: Dari Anas, ia berkata, Kebanyakan doa yang dibaca Rasulullah ﷺ adalah ‘Allāhumma, ātinā fid dunyā hasanah, wa fil ākhirati hasanah, wa qinā ‘adzāban nār (HR Bukhari dan Muslim).
Hasanah” = Kesehatan / keselamatan (ʿāfiyah)
Sebagian ulama mengatakan:
- Hasanah di dunia = ’āfiyah (kesehatan, keselamatan, terhindar dari musibah besar).
- Hasanah di akhirat = ’āfiyah juga, yaitu keselamatan dari azab dan kesusahan di akhirat.
Diriwayatkan dari Qatadah:
قال قتادة: وقال رجل: اللهمّ ما كنت معاقبـي به فـي الآخرة فعجله لـي فـي الدنـيا فمرض مرضاً حتـى أضنى علـى فراشه، فذكر للنبـيّ صلى الله عليه وسلم شأنه، فأتاه النبـيّ صلى الله عليه وسلم، فقـيـل له: إنه دعا بكذا وكذا،
:فقال النبـيّ صلى الله عليه وسلم
” إنَّهُ لا طاقَةَ لأِحَدٍ بِعُقُوبَةِ اللَّهِ، وَلَكِنْ قُلْ: رَبَّنا آتِنا فِـي الدُّنـيْا حَسَنَةً وفـي الآخِرِةِ حَسَنَةً وَقِنا عَذَابَ النَّار “
فقالها، فما لبث إلا أياماً أو يسيراً حتـى برأ.
تفسير جامع البيان في تفسير القرآن/ الطبري (ت 310 هـ)
Ada seorang laki-laki yang berdoa:
“Ya Allah, apa pun azab yang hendak Engkau timpakan kepadaku di akhirat, segerakanlah semuanya di dunia.”
Lalu ia sakit keras sampai badannya sangat lemah. Keadaan orang tersebut disampaikan kepada Kanjeng Nabi ﷺ. Beliau ﷺ bersabda (maknanya):
“Tidak ada seorang pun yang sanggup menanggung azab Allah. Tetapi katakanlah: ‘Rabbana ātinā fid-dunyā ḥasanah wa fil-ākhirati ḥasanah waqinā ‘adhāban-nār.’”
Lalu ia pun membaca doa itu dan tidak lama kemudian ia sembuh.
“Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an” – Imam Ath-Thabari
Diriwayatkan dari Anas bin Malik:
حدثنـي الـمثنى، قال: ثنا سعيد بن الـحكم، قال: أخبرنا يحيى بن أيوب، قال: ثنـي حميد، قال: سمعت أنس بن مالك يقول: عاد رسول الله صلى الله عليه وسلم رجلاً قد صار مثل الفرخ الـمنتوف، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
” هَلْ كُنْتَ تَدْعُو اللَّهَ بِشَيْءٍ، أوْ تَسألُ اللّهَ شَيْئاً؟ ”
قال: قلت: اللهمَّ ما كنت معاقبـي به فـي الآخرة فعاقبنـي به فـي :الدنـيا. قال:
” سُبْحانَ اللّهِ هَلْ يَسْتَطِيعُ ذَلِكَ أحَدٌ أوْ يُطِيقُهُ فهَلاَّ قُلْتَ: اللَّهُمَّ آتِنا فِـي الدُّنْـيا حَسَنَةً، وفِـي الآخِرَة حَسَنَةً، وَقِنا عَذَابَ النَّارِ “
تفسير جامع البيان في تفسير القرآن/ الطبري (ت 310 هـ)
Suatu saat Kanjeng Nabi ﷺ menjenguk seorang yang sakit sampai tubuhnya seperti anak burung yang bulunya rontok (sangat kurus/lemah).
Beliau ﷺ bertanya: “Apakah engkau biasa berdoa dengan doa tertentu?”
Ia menjawab: “Ya, saya berdoa: ‘Ya Allah, apa saja azab yang akan Engkau timpakan kepadaku di akhirat, timpakanlah semuanya di dunia.’”
Kanjeng Nabi ﷺ bersabda (maknanya):
“Mahasuci Allah, adakah seseorang mampu dan sanggup menanggung itu? Mengapa tidak engkau katakan: ‘Allahumma ātinā fid-dunyā ḥasanah, wa fil-ākhirati ḥasanah, waqinā ‘adhāban-nār.’”
“Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an” – Imam Ath-Thabari
“Hasanah” di dunia = ilmu & ibadah, di akhirat = surga
Sebagian ulama lain menjelaskan bahwa:
- Hasanah di dunia = ilmu yang bermanfaat, pemahaman terhadap Kitab Allah, dan ibadah yang benar.
- Hasanah di akhirat = surga.
Diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri:
- “Hasanah di dunia adalah ilmu dan ibadah, dan hasanah di akhirat adalah surga.”
- Dalam riwayat lain:
“Hasanah di dunia adalah pemahaman dalam Kitab Allah dan ilmu.”
Sufyān ats-Tsaurī juga berkata tentang ayat ini:
- “Hasanah di dunia adalah ilmu dan rezeki yang baik, dan hasanah di akhirat adalah surga.”

Menyelami lebih Dalam Do’a Sapu Jagad
Induk Segala Kebaikan
Dalam Tafsir Lataif Al Isyarat, Imam al-Qusyairi mengatakan:
إنما أراد بها حسنة تنتظم بوجودها جميع الحسنات، والحسنةُ التي بها تحصل جميع الحسنات في الدنيا – حفظُ الإيمان عليهم في المآل؛ فإِنَّ مَنْ خرج من الدنيا مؤمناً لا يخلد في النار، وبفوات هذا لا يحصل شيء. والحسنة التي تنتظم بها حسنات الآخرة – المغفرة، فإذا غفر فبعدها ليس إلا كل خير.
Beliau menjelaskan bahwa:
“Hasanah” yang diminta dalam doa ini bukan sekadar satu kebaikan biasa, tetapi:
- Kebaikan pokok yang dengan adanya ia, semua kebaikan lain ikut masuk di dalamnya.
- Kebaikan “induk” yang mencakup dan melahirkan semua kebaikan lainnya.
Hasanah di dunia yang seperti itu adalah:
Hifzhul-īmān ‘alayhim fil-ma’āl
“Terjaganya iman mereka hingga akhir (menjelang kematian).”
- Karena barang siapa wafat dalam keadaan beriman, ia tidak akan kekal di neraka.
- Jika iman di ujung hayat hilang (su’ul khātimah), maka seluruh kebaikan lain seperti harta, ilmu, kedudukan, bahkan amal-amal tertentu, menjadi tidak berarti dalam keseluruhan nasib akhiratnya.
- Jadi inti kebaikan dunia = dijaga agar mati dalam iman.
Hasanah di akhirat yang mencakup semua kebaikan adalah:
Al-maghfirah (ampunan).
- Bila Allah mengampuni, maka:
- Selamat dari azab.
- Mendapatkan rahmat-Nya.
- Terbuka pintu surga dan semua kenikmatan lainnya.
- Setelah ampunan, yang tersisa hanyalah kebaikan: “فإذا غفر فبعدها ليس إلا كل خير”.
Hasanah adalah Perjumpaan
ويقال الحسنة في الدنيا العزوف عنها، والحسنة في الآخرة الصون عن مساكنتها.
Hasanah di dunia:
العزوف عنها artinya: “Berpaling/menjauh dari dunia.”
Yang maksudnya adalah:
- Kebaikan terbesar di dunia bukan memperbanyak menikmati dunia.
- Tetapi zuhud: hati tidak terpaut, tidak tamak, tidak tertawan oleh dunia.
- Bukan berarti meninggalkan sebab-sebab dunia secara lahiriah total, tetapi tidak menjadikan dunia sebagai tujuan dan kecintaan utama.
Baca juga: Zuhud: Jalan Tenang Menata Dunia dan Akhirat
Hasanah di akhirat:
الصون عن مساكنتها artinya: “Terpelihara dari bersanding (bersahabat terlalu dekat) dengan akhirat.”
Bagi para kekasih Allah, bahkan kenikmatan akhirat (surga, bidadari, istana, sungai, dsb.) bukan tujuan terakhir. Hasanah akhirat bagi mereka adalah: terjaga dari berhenti di kenikmatan surga itu sendiri, sehingga tidak “tersibukkan” oleh surga dari Allah. Tidak menjadikan surga sebagai pengganti Allah.
Jadi, dunia tidak mengikat, akhirat pun tidak dijadikan “teman sebangku” yang memalingkan dari fokus utama, yaitu: Allah ! tidak yang lain.
Hasanah: Makna Lebih Dalam (1)
Masih dalam Tafsir Lataif Al Isyarat, Imam al-Qusyairi mengatakan:
ويقال الحسنة في الدنيا شهود بالأسرار وفي الآخرة رؤية بالأبصار.
Hasanah di dunia adalah:
شهود بالأسرار – “Penyaksian (ma’rifah) dengan rahasia-rahasia (batin).”
Yang maksudnya adalah:
- Di dunia, orang yang didekatkan kepada Allah memperoleh:
- Syuhūd: penyaksian batin, ma’rifah; menyaksikan tanda-tanda Allah dengan hati.
- Merasakan kehadiran Allah, cahaya-Nya, rahmat-Nya, walau tidak melihat-Nya dengan mata kepala.
- Ini adalah pengetahuan batin (dzauq), bukan sekadar pengetahuan teoritis.
Hasanah di akhirat adalah:
رؤية بالأبصار – “Melihat (Allah) dengan mata (lahir).”:
- Di akhirat, kenikmatan tertinggi adalah ru’yatullah: melihat Allah dengan mata, sebagaimana akidah Ahlus Sunnah.
Hasanah: Makna Lebih Dalam (2)
Imam al-Qusyairi mengatakan:
ويقال حسنة الدنيا ألا يُغنيك عنك وحسنة الآخرة ألا يردك إليك.
Kalimat ini sangat halus dan perlu perlahan untuk memahaminya:
“حسنة الدنيا ألا يُغنيك عنك”
Secara harfiah: “Hasanah dunia adalah bahwa Dia (Allah) tidak membuatmu kaya (cukup) dari dirimu sendiri.” Penjelasan makna:
- Maksudnya: Allah tidak membiarkanmu merasa cukup dengan dirimu sendiri, bergantung pada dirimu sendiri.
- Sehingga:
- Engkau selalu melihat kebutuhanmu kepada-Nya.
- Tidak ujub, tidak merasa mampu sendiri, tidak bergantung pada kekuatan diri.
- Jadi hasanah dunia adalah tetap merasa fakir kepada Allah, tidak bergantung kepada ego (nafs) dan daya upaya diri sendiri.
“حسنة الآخرة ألا يردك إليك”
“Hasanah akhirat adalah bahwa Dia tidak mengembalikanmu kepada dirimu sendiri.” Maksudnya:
- Di akhirat, kebaikan tertinggi adalah:
- Allah tidak “mengembalikanmu” lagi kepada sifat-sifat kelemahanmu, kekuranganmu, keterbatasanmu.
- Tetapi menetapkanmu dalam kedekatan kepada-Nya, dalam limpahan rahmat dan ridha-Nya, bukan kepada dirimu sendiri.
- Dengan kata lain:
- Hasanah di dunia: engkau tidak merasa cukup dengan dirimu, terus berada dalam rasa butuh kepada Allah.
- Hasanah di akhirat: engkau tidak dikembalikan kepada dirimu, tapi kepada-Nya – dalam kedekatan dan keintiman, berada bersama Allah, bukan bersama keterbatasan dan kegelapan diri sendiri.
Hasanah: Makna Lebih Dalam (3)
Selanjutnya Imam al-Qusyairi mengatakan:
ويقال حسنة الدنيا توفيق الخدمة وحسنة الآخرة تحقيق الوصلة.
Hasanah dunia:
توفيق الخدمة – “Taufik untuk berkhidmah (beribadah/beramal) kepada Allah.”
Hasanah akhirat:
تحقيق الوصلة – “Tercapainya hubungan (kedekatan) dengan Allah secara hakiki.”
Bahwa akhir dari segala ibadah dan khidmah bukan hanya surga, akan tetapi: Al-wuṣlah yaitu tercapainya kedekatan, pertemuan, hubungan mesra dengan Allah.
Api Perpisahan dan Api yang Membakar
والوقاية من النار ونيران الفُرقة إذ اللام في قوله {النَّارَ} لام جنس فتحصل الاستعاذة عن نيران الحرقة ونيران الفرقة جميعاً.
Dalam; “وقنا عذاب النار” – “Lindungilah kami dari azab neraka.” Imam al-Qusyairi memberi kedalaman makna:
Beliau mengatakan bahwa “ال” pada “النار” adalah “Alif lam jins” (alif lam (ال) yang berfungsi menjelaskan jenis atau hakikat dari suatu kata secara keseluruhan/umum, bukan merujuk pada individu tertentu. Secara makna, kata tersebut bersifat umum (nakirah), meski secara lafadz menjadi ma’rifah (ditentukan). ) Yang artinya: bukan hanya satu neraka tertentu, tapi jenis “api” secara umum. Sehingga pengertian “api” di sini menjadi lebih luas.
Maka “وقنا عذاب النار” : Perlindungan yang diminta dari “api” mencakup:
- نيران الحرقة – api yang membakar:
- Yaitu neraka Jahannam, api azab secara fisik di akhirat.
- نيران الفُرقة – api perpisahan:
- Maksudnya: pedihnya terpisah dari Allah, jauh dari rahmat-Nya, terhijab (tertutup) dari-Nya.
- Menurut para sufi, rasa tersiksa karena jauh dari Allah itu sendiri adalah “neraka batin”.
Epilog
Sapu Jagad: Sejatinya adalah puncak permohonan seorang hamba yang ingin hidupnya utuh: lahir–batin, dunia–akhirat.
Di tingkat lahir, ia mencakup semua kebaikan dunia (rezeki, kesehatan, ilmu, keluarga, keselamatan) dan semua kebaikan akhirat (ampunan, surga, selamat dari neraka). Di tingkat batin, do’a ini adalah permintaan: Agar iman dijaga sampai akhir hayat, hati tidak diperbudak dunia dan tidak “terjebak” hanya pada nikmat surga, tapi terus menuju ridha dan perjumpaan dengan Allah, agar diberi taufik untuk berkhidmah di dunia, dan mencapai kedekatan (الوُصْلَة) di akhirat.
Doa ini mengajarkan kita untuk tidak puas dengan sekadar “hidup nyaman”, tetapi mengarahkan seluruh hidup menuju husnul khatimah, ampunan, dan kedekatan dengan Allah. Do’a ini menggabungkan kebaikan yang tampak dan yang tersembunyi, yang sederhana dan yang sangat dalam, sehingga layak menjadi doa harian yang kita baca dengan hati penuh harap, sadar bahwa di dalam satu kalimat singkat ini, kita sedang memohon seluruh kebaikan yang mungkin ada dan perlindungan dari segala keburukan yang paling kita takuti.
Wallohul Musta’an
Tukang Sapu Zawiyah
